Selasa, 05 Januari 2010

Menasihati orangtua yang Otoriter

Soal
Saya mau nanya, bagaimana cara menegur orang tua yang otoriter, maunya menang sendiri dan sifatnya sulit untuk diubah. Sementara sebagai anak harus selalu taat pada orang tua bagaimana pun keadaannya?

Jawab
Memang benar seorang anak pada prinsipnya harus mentaati kedua orang tuanya. Tetapi persoalan taat ini terbatas pada persoalan yang bersifat mubah, tidak ada larangan dari Allah dan RasulNya. Sementara jika ada larangan dari Allah atau RasulNya, maka tidak diizinkan mentaatinya sebagaimana firma Allah, ”Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik” (QS Luqman:15)
Mempergauli dengan baik di dalam ayat di atas maksudnya adalah bersikap hormat kepada mereka dalam pergaulan. Di antara wujud hormat seorang anak kepada orang tua adalah memegang amanah orang tua, mendahulukan orang tua ketika makan, mentaati perintah dan larangan orang tua, mengutamakan pendapat orang tua atas pendapatnya sendiri, bersikap sopan saat berbicara, dan lain-lain.
Penghormatan kepada orang tua di sini tidak menutup kemungkinan memberikan pertimbangan-pertimbangan terhadap kebijakan orang tua, jika ia melihat ada sesuatu yang lebih baik. Tentu kita boleh saja memberikan pertimbangan, bukan untuk menggurui. Yang perlu diingat, dalam menyampaikan tentunya menjaga adab yang baik, penuh rasa hormat dan tawadlu’. Tetapi jika kemudian orang tua memilih sesuai dengan pilihannya sendiri, kewajiban anak adalah mentaatinya.
Memberi pertimbangan atau menasihati orang tua tidak sama seperti menasihati orang muda. Apalagi menegur, misalnya menegur untuk shalat. Cara yang digunakan mestilah sesuai supaya tidak menyinggung perasaan mereka.
Di sini ingin kami tambahkan, untuk memberi pertimbangan kepada orang tua kadang-kadang memerlukan bantuan dari orang yang dihormati oleh orang tua, baik karena kedudukan, atau usianya lebih tua. Untuk itu ada baiknya Anda memohon bantuan kepada mereka yang dihormati orang tua Anda untuk ikut serta memberikan masukan saran atau nasihat kepada orang tua Anda. Tetapi tentunya dengan menjaga agar orang ketiga ini tidak terlalu masuk ke dalam urusan orang tua, sekedar membuka wacana bagi orang tua saja.
Atau jika mungkin diberikan bahan-bahan bacaan, persilakan orang tua untuk membaca bahan-bahan yang bermanfaat.
Yang terakhir, selalu do’akanlah orang tua Anda, semoga Allah memberikan hidayah kepadanya

Benarkah Kita telah Menjadi Khilafah?

Bismillaahirrohmaanirrohim


Kalau boleh kita berandai-andai, seandainya saja dulu Nabi Adam as dan istrinya Hawa tidak terperangkap dalam bujuk rayu iblis laknatullah untuk melanggar larangan Allah memakan buah terlarang, mungkin umat manusia termasuk kita sedang bersenang-senang dalam surga dan menikmati segala fasilitas yang Allah berikan. Tapi mungkin juga kita tak pernah ada dan tak pernah dilahirkan.



Ada hikmah tersendiri dalam “pengusiran” Nabiyullah Adam Alaihissalam dan Hawa dari surga. Hikmah itu adalah bahwa makhluk yang bernama manusia, lebih bisa menghargai akal pemberian Allah Azza Wa Jalla. Dengan anugerah akal yang diberikan Allah kepadanya lebih bisa membedakan dirinya dengan makhluk-makhluk lain, dimana ia bisa berkreasi dan berkreatifitas untuk mempertahankan hidupnya, manusia bisa mengolah alam semesta, memakmurkannya dan mengambil apapun daripadanya untuk kepentingan dirinya.


Kini, setelah ribuan tahun silam manusia diturunkan Allah dari surga-Nya, kita bisa melihat betapa pesatnya perkembangan manusia dalam memakmurkan dunia. Kita telah berhasil menjadi khalifah (pemimpin) dunia karena ternyata makhluk apapun yang ada di dunia ini bisa kita “kendalikan” dengan kemampuan akal yang kita miliki. Dengan kekuatan akal pula, kita mampu menciptakan apapun yang kita inginkan untuk menopang dan meningkatkan taraf hidup kita di dunia.


Akan tetapi benarkah kita telah berhasil menjadi khalifah di bumi Allah ini? Sebuah pertanyaan yang mesti kita jawab sendiri dalam benak kita. Karena di satu sisi kita bisa melihat bagaimana alam ini terlihat lebih semarak dengan berbagai ciptaan manusia, tapi ternyata di sisi lain kita juga menemukan banyak sekali kerusakan alam yang timbul akibat ulah kita. Dengan dalih memanfaatkan sumber daya alam, kita eksploitasi kekayaan alam secara berlebihan, kita tebangi pepohonan untuk diambil kayunya tanpa pernah lagi kita lakukan penanaman kembali, kita keruk bumi sampai ke perutnya untuk mencari logam-logam mulia dan bijih-bijih yang menghasilkan uang tanpa pernah kita pikirkan efek samping dan akibat yang timbul daripadanya.


Cobalah lihat dengan mata kepala dan mata hati yang kita miliki, betapa ternyata dengan ulah kita sendiri secara tidak langsung kita telah membunuh dan menghabisi nyawa orang-orang tak berdosa. Demi keuntungan berlipat kita tebangi pepohonan di hutan dan pegunungan, tanpa kita sadari akan ada ancaman banjir yang bisa menghilangkan nyawa ribuan orang saudara kita. Kita bangun pabrik-pabrik, dan kita alirkan limbahnya ke sungai-sungai yang ada tanpa kita sadari berapa banyak orang dan makhluk hidup lainnya yang terancam kehidupannya. Demi ego yang tinggi kita ciptakan senjata dan perang, tanpa pernah terpikir oleh kita, berapa ribu umat manusia yang bisa menjadi korban atas kekejamannya.


Jadi, benarkah kita sudah menjadi khalifah yang baik sesuai apa yang diharapkan oleh-Nya?? Apa bedanya kita dengan makhluk-makhluk ciptaan Allah yang ada sebelum kita yang menurut para malaikat senantiasa menumpahkan darah di muka bumi ini? Sampai kapan kita akan terus memanjakan ego kita tanpa pernah melihat apa, siapa dan bagaimana akibat yang timbul dari ego yang kita miliki.

About Me

Foto Saya
RAFI COMPUTER
Lihat profil lengkapku

Daftar Blog Saya

Daftar Blog Saya

Anggota