Kamis, 24 Desember 2009

Fokuslah Bila Ingin Hebat

Jika Anda ingin menjadi master di bidang tertentu ingatlah kata-kata ini: berfokuslah pada satu hal atau keterampilan dengan kesetiaan tanpa henti untuk terus melakukan perbaikan, dan berkeinginan kita menjadi yang terbaik.

Fokus, perbaikan tiada henti dan keinginan kuat menjadi yang terbaik adalah bahan bakar utama untuk menjadi seorang spesialis. Dan sebagian mayoritas orang besar berasal dari seorang spesialis.

B.J. Habibie adalah seorang spesialis di bidang pesawat terbang. Apakah kesuksesannya murni merupakan karunia alam? Tentu saja jawabannya tidak. Ia mengambil apa yang diberikan alam kepadanya dan menjalankan formula tadi; fokus ditambah perbaikan terus tiada henti dan keinginan kuat untuk menjadi yang terbaik.

Lelaki kelahiran Pare-Pare ini tidak ingin menjadi yang terbaik di lima bidang yang berbeda. Misalnya, ia tidak ingin ahli di bidang kereta api atau kendaraan beroda empat. Mantan Presiden RI ketiga ini hanya ingin hebat pada bidang pesawat terbang.
Dan ia berhasil.

Michael Jordan fokus pada basket. Cristiano Ronaldo fokus pada sepakbola. Muhamad Yunus fokus pada microfinance. Bill Gates fokus pada software evelopment computer, Dedi Mizwar fokus pada film. Yusuf Mansur fokus pada ilmu sedekah. Hermawan Kertajaya fokus pada dunia marketing. Mereka dan banyak orang lainnya tidak memecah fokus yang ditekuninya. Dan mereka berhasil.

Thomas A Edison mendaftarkan 1.093 paten. Ia juga menemukan bola lampu hingga gramofon. Lelaki yang pernah dicap idiot oleh gurunya ini tidak mencoba untuk menjadi pedagang besar, penyair terkenal, dan musisi ternama. Ia hanya berfokus pada penemuan-penemuannya. Ia juga memperbaikinya setiap hari. Dan selalu terdorong untuk menjadi penemu hebat dan memberi manfaat bagi dunia.

Selanjutnya, ia membiarkan waktu yang menciptakan keajaiban. Dan ternyata, keberhasilan mengetuk pintu bagi orang-orang yang memang fokus pada bidangnya. Mereka para spesialis.

Mungkin Anda ingat akan kisah Pablo Picasso. Suatu hari, seorang wanita melihatnya di pasar dan ia mengambil secarik kertas. ”Tuan Picasso, saya adalah penggemar Anda. Maukah Anda menggambar sedikit untuk saya?”

Picasso dengan gembira memenuhi permintaan itu dan menggoreskan sebentuk seni di atas kertas yang diberikan. Sambil tersenyum ia mengembalikan kertas itu sambil berkata, ”Nilai kertas ini bisa jutaan dolar lho.” Wanita itu bingung dan berkata, ”Tapi tuan Anda hanya perlu waktu 30 detik untuk menghasilkan mahakarya ini.” Sambil tertawa Picasso menjawab, ”Saya membutuhkan waktu 30 tahun agar dapat menghasilkan mahakarya dalam waktu 30 detik.”

Ketahuilah apa kelebihan Anda. Temukan talenta Anda, lalu berusaha keras sekuat tenaga untuk memoles talenta Anda. Ketahuilah apa yang menjadi bagian terbaik dalam hidup Anda. Anda sangat ahli dan menyenangi hal itu. Bahkan Anda terkadang gelisah ketika Anda tidak melakukan hal itu.

Mungkin Anda seorang komunikator yang jago bergaul. Mungkin Anda ahli dalam hal memperlancar keadaan. Mungkin Anda seorang inovator yang mampu melahirkan sesuatu yang baru. Mungkin Anda orang yang tekun menjalankan bisnis walau hasilnya kecil namun volumenya besar. Atau Anda seorang yang ahli memberikan nilai tambah sehingga Anda mampu menjual produk yang sama namun dengan harga yang jauh lebih tinggi.

Temukan kelebihan Anda, lalu kembangkan. Fokuslah pada kelebihan Anda dan terus menerus diasah, lakukan perbaikan terus menerus, dan berkomitmenlah untuk menjadi yang terbaik di bidang Anda. Saya yakin tak lebih sepuluh tahun dari sekarang Anda akan menjadi orang yang hebat di bidang Anda. Mungkin orang akan membicarakan atau menulis tentang Anda.

Mari bertaruh dengan saya. Jika Anda sudah menemukan talenta Anda dan mencurahkan waktu setiap hari untuk mengasah talenta itu dan terus menerus memperbaikinya serta berkomitmenlah untuk menjadi yang terbaik di bidang itu, tak lebih dari 10 tahun yang akan datang Anda telah menjadi seorang yang hebat.

Ketika itu bawalah hadiah kepada saya, karena saya telah memenangkan pertaruhan ini. Bila Anda gagal, itu karena Anda ingin hebat di semua hal sehingga fokus Anda pecah. Akhirnya Andapun tak mendapatkan semua hal itu. (***)

Penulis: Jamil Azzaini
Sumber: http://www.antaranews.com/jeda/?i=1261140508
Senin, 21 Desember 2009

Menghargai Anak Sebagai Individu

Anakmu bukanlah anakmu.
Mereka putra-putri kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka datang melalui engkau tapi bukan dari engkau.
Dan walaupun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan kepunyaanmu.
Kau dapat memberi mereka cinta kasihmu tapi tidak pikiranmu.
Sebab mereka memiliki pikirannya sendiri.

Kau bisa merumahkan tubuhnya tapi tidak jiwanya.
Sebab jiwa mereka bermukim di rumah masa depan,
Yang tiada dapat kau sambangi,
Bahkan tidak dalam impian-impianmu

Kau boleh berusaha seumpama mereka,
Tapi jangan berusaha membuat mereka seperti dirimu.
Sebab kehidupan tiada surut ke belakang, pun tiada tinggal bersama hari kemarin

Engkaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah membidik tanda sasaran di atas jalan


Puisi tersebut menyiratkan bahwa setiap anak terlahir sebagai individu yang unik dan bebas mengekspresikan dirinya. Walaupun orang tua tidak bisa merumahkan jiwa mereka, orang tua dapat menjalankan peran dan tugasnya sebagai pembimbing anak agar keunikan dan potensi anak dapat distimulasi dengan tepat.

Setiap anak adalah amanah dari Yang Mahakuasa. Peran dan tugas orang tua sebagai pembawa amanah, tentunya membutuhkan pengetahuan yang mendalam tentang cara menjaga amanah dengan baik dan memberikan bimbingan yang tepat. Beratnya beban dan tanggung jawab sebagai orang tua terkadang secara tidak disadari membuat orang tua lupa bahwa anak-anaknya adalah individu yang unik. Individu yang perlu mendapatkan pembimbingan dan dihargai sebagai pribadi, bukan dibatasi kesempatannya untuk mengembangkan diri ataupun dipaksa menjadi orang lain.

Harapan orang tua tentang keberhasilan anak di masa depan adalah harapan yang sangat manusiawi. Setiap orang tua tentunya berharap anaknya meraih keberhasilan dalam kehidupan mereka di masa depan. Namun, orang tua sering lupa bahwa keberhasilan anak di masa depan, sejatinya adalah keberhasilan yang datang dari kebahagiaan anak. Artinya, orang tua tidak dapat memaksakan kehendak atau cita-cita pribadi agar diwujudkan oleh anak.


Paksaan = beban


Sering kita dengar keluhan anak bahwa ia memilih suatu jurusan tertentu di pendidikannya atau mengikuti kursus dan les tertentu karena disuruh orang tua, padahal ia tidak sungguh-sungguh menyukai jurusan, kursus, ataupun les tersebut. Terdapat banyak kasus di mana orang tua membebankan cita-cita orang tua yang tidak tercapai kepada anaknya dan berharap anak mampu meraih cita-cita orang tua tersebut.

Keterpaksaan yang dijalani anak karena tuntutan orang tua, tentunya tidak membawa kebahagiaan bagi anak. Ia akan mengalami banyak kesulitan melakukan hal-hal yang dituntutkan padanya karena ia tidak betul-betul menikmati situasi tersebut. Ketika ini terjadi, tentunya anak tidak akan dapat sungguh-sungguh mencapai prestasi yang diharapkan orang tua.

Di satu sisi, ini akan menjadi beban bagi anak karena ia merasa tidak menyukai kegiatan itu dan melakukannya dengan keterpaksaan. Beban ini tentunya dapat berdampak pada berbagai sisi lain dalam kehidupan mereka. Orang tua mungkin akan mengeluhkan bahwa anak menjadi mudah marah atau memberontak terhadap tuntutan orang tua. Di sisi lain, anak mungkin tidak dapat mencapai prestasi optimal dan berpeluang menumbuhkan perasaan bersalah pada diri anak karena ia tidak mampu memenuhi keinginan orang tua.

Bagi orang tua, ketidakmampuan anak bisa dimaknakan sebagai kurangnya usaha dari anak untuk mencapai prestasi maksimal. Mungkin orang tua menjadi lupa bahwa anak tidak benar-benar menyukai kegiatan tersebut. Orang tua bisa jadi semakin menuntut anak untuk berprestasi lebih maksimal. Tindakan ini berpeluang menimbulkan konflik pada aspek-aspek lain dalam kehidupan anak.

Penghargaan

Tuntutan berlebihan dari orang tua dan keterpaksaan yang dilakukan oleh anak ini, tentunya akan menyulitkan bagi orang tua maupun anak. Oleh karena itu, perlu kiranya orang tua melakukan perenungan kembali mengenai apa tujuan pendidikan yang akan dilakukan oleh orang tua pada anak-anak mereka. Dalam hal ini, penghargaan terhadap anak adalah unsur utama yang harus dipertimbangkan sebagai jembatan untuk mengantar mereka mengikuti pendidikan yang mereka sukai.

Seyogianya, orang tua menjalankan perannya sebagai pembimbing bagi anak. Dalam arti, penghargaan pada anak juga diarahkan pada penghargaan terhadap pilihan anak atas suatu kegiatan tertentu dengan tetap memberikan pengarahan yang dibutuhkan.

Dalam perannya sebagai pembimbing, orang tua hendaknya menjadi sumber informasi tentang berbagai jurusan, kegiatan kursus dan les yang dapat menstimulasi perkembangan anak dengan lebih baik. Orang tua juga hendaknya menjadi sumber informasi mengenai profesi, cita-cita yang dapat dipilih anak, peran dan tanggung jawab profesi tersebut serta prospeknya di masa depan. Tentunya ini dilakukan tanpa unsur memaksa anak untuk memilih salah satu yang orang tua inginkan. Pilihan ada di tangan anak, tetapi orang tua tetap memberikan bimbingan dan diskusi tentang berbagai alternatif tersebut.

Menghargai anak sebagai individu, juga dapat dilakukan oleh orang tua dengan senantiasa mendengarkan keluhan dan pendapat anak. Keluhan yang disampaikan anak kepada orang tua adalah cermin bahwa orang tua dipandang sebagai pribadi yang kompeten oleh anak sehingga patut dimintai pendapat. Selain itu, orang tua juga dipandang sebagai orang terdekat sehingga anak merasa nyaman berkeluh kesah pada orang tuanya karena yakin bahwa orang tua akan membantu.

Di sisi lain, orang tua juga patut menghargai pendapat anak. Sesederhana apa pun pendapat anak jika orang tua mendengarkan dan memberikan respons positif, tentunya akan dimaknai sebagai penghargaan oleh anak. Penghargaan ini akan menumbuhkan rasa bangga pada diri anak bahwa ia dianggap kompeten oleh orang tua dan anak akan merasakan bahwa ia dihargai. Relasi mutualisme ini akan memupuk saling pengertian antara orang tua dan anak sehingga potensi konflik di usia remaja dapat sedikit diminimalisasi.

Menghargai anak sebagai individu adalah juga menghargai minat dan potensi yang dimilikinya. Tidak sepatutnya orang tua melakukan pembandingan kemampuan anak yang satu dengan anak lainnya karena sesungguhnya tiap anak lahir dengan potensi dan kemampuan berbeda. Stimulasilah anak sesuai dengan arah minat dan potensinya. Sangatlah bijak jika orang tua tidak menuntut anak melakukan sesuatu yang di luar batas kemampuan anak. Tidak semua anak harus menjadi juara I, tapi semua anak harus menjadi diri sendiri yang memiliki potensi yang distimulasi dengan baik.

Menghargai anak sebagai individu adalah juga menghargai kepribadiannya yang unik. Ada anak yang mudah tersentuh emosinya, ada anak yang memiliki empati yang tinggi, ada anak yang rasional, ada anak yang sedikit keras kepala, dan sebagainya. Pribadi-pribadi unik ini perlu mendapatkan pembimbingan yang tepat dan bersifat individual. Bimbingan untuk anak yang satu belum tentu cocok untuk anak yang lain. Oleh karena itu, pemahaman karakter tiap anak adalah penting untuk dapat membantu tumbuh kembang anak menjadi jauh lebih baik. Pahamilah kelebihan dan kekurangan tiap anak sehingga pendekatan yang akan dilakukan orang tua pada tiap anak menjadi bersifat eksklusif dan personal.

Kau boleh berusaha seumpama mereka,
Tapi jangan berusaha membuat mereka seperti dirimu.
Sebab kehidupan tiada surut ke belakang, pun tiada tinggal bersama hari kemarin

Semoga kita mampu merenungi kembali peran dan tanggung jawab yang telah kita lakukan sebagai orang tua untuk membantu perkembangan anak seoptimal mungkin dan tetap menghargai mereka sebagai individu. Kita harus mencoba untuk kembali meluruskan tujuan pendidikan yang akan kita berikan pada anak. Satu hal utama yang harus selalu kita ingat adalah pendidikan tersebut akan menjadi bekal bagi hidup anak di masa depan. Sehingga minat dan kemampuan serta kebahagiaan anak adalah jembatan utama untuk mengantar mereka mendapatkan pendidikan terbaik bagi mereka. Semoga kita mampu menjadi orang tua yang menghargai keunikan mereka. (Ihsana Sabriani.B/Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba)***
Minggu, 20 Desember 2009

Menghargai Anak Sebagai Individu


Anakmu bukanlah anakmu.
Mereka putra-putri kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka datang melalui engkau tapi bukan dari engkau.
Dan walaupun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan kepunyaanmu.
Kau dapat memberi mereka cinta kasihmu tapi tidak pikiranmu.
Sebab mereka memiliki pikirannya sendiri.

Kau bisa merumahkan tubuhnya tapi tidak jiwanya.
Sebab jiwa mereka bermukim di rumah masa depan,
Yang tiada dapat kau sambangi,
Bahkan tidak dalam impian-impianmu

Kau boleh berusaha seumpama mereka,
Tapi jangan berusaha membuat mereka seperti dirimu.
Sebab kehidupan tiada surut ke belakang, pun tiada tinggal bersama hari kemarin

Engkaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah membidik tanda sasaran di atas jalan

Kenapa Banyak Orang Ingin Jadi PNS ?

Judul tersebut masih menjadi tanda tanya besar bagi saya. Selama ini saya lebih sering ketemu dengan orang-orang yang sangat berminat untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan alasan jaminan hari tua, mereka beralasan seolah-olah masa depan sudah ‘aman dan nyaman’ dengan menjadi PNS. Jarang sekali bahkan hampir tidak pernah saya jumpai orang yang sama sekali tidak berminat menjadi PNS.

Begitulah memang seperti yang dikatakan pleh para pebisnis “watak orang Indonesia, merasa terbuai dengan’kenyamanan’”

Ada beberapa alasan mengapa orang ingin menjadi Pegawai pemerintah, antara lain:

- Aman dan Nyaman, karena kalau di swasta katanya nanti bisa nggak dipakai orang lagi, dipecat, dlsb. Motivasi ini jelas bibit dari sifat PGPS (pinter goblok pendapatan sama). Kalau jadi PNS aman, gak bakalan dipecat mau segoblok apa juga. Mau kerja rajin, mau kerja malas, mau kreatif atau dongok, tetap aman dah.

- Pensiun, ini cukup make sense dan manusiawi, tapi apa mereka tidak tahu bahwa perusahaan2 swasta pun banyak yang memiliki program dana pensiun, dan kenapa tidak setinggi itu animo untuk bekerja di swasta? mungkin kembali ke poin di atas.

- Mau jadi kaya, nah ini nih… jarang diungkapkan, tapi kalau mau disurvey secara jujur inilah motivasi utama mayoritas orang yang mau jadi PNS.

- Kebanggaan, hmm… mungkin juga, meskipun saya gak tahu di mana harus bangganya. Memang ada beberapa profesi yang membanggakan atau menurut saya mereka patut bangga dengan itu seperti peneliti ilmiah, dosen, guru (salut untuk yang ini) atau profesi2 yang memang membutuhkan kompetensi tinggi, untuk profesi-profesi seperti ini tentunya tidak berlaku “if I am just a little bit dumber, then I will be a PNS”. Tapi yang lainnya, bangga??

7-8 tahun lalu, di sebuah artikel di harian Kompas, saya baca tulisannya Alm Romo Mangun, doi menulis tentang sistem kependidikan kita dan kenapa orang begitu berminat menjadi PNS (birokrat). Rupanya, menurut analisis doi, kita ini masih mewarisi mental inlander dari jaman kolonial dulu, di mana orang dididik untuk menjadi patuh dan taat pada pemerintah sehingga bisa menjadi ambtenaar (PNS di jaman kolonial). Menjadi ambtenaar itu jabatan terhormat di masyarakat waktu itu, dan rupanya masih terbawa hingga sekarang.

Yang juga masih terbawa adalah paradigma bahwa mereka adalah bagian dari kekuasaan (penguasa), bukan pelayan rakyat atau pembayar pajak.

Sehingga, kata Romo Mangun, pernah ada penelitian tentang cita-cita pelajar di dunia. Di Amrik, jika ditanya cita-citanya, para pelajar di sana mengatakan mereka ingin menjadi pengusaha, eksekutif perusaahaan multi nasional, pengacara, dll. Di Iran, pelajarnya ingin menjadi ulama dan tokoh syiah. Di Indonesia, pelajarnya ingin menjadi PNS. (http://www.blogger.com/email-post.g?blogID=8637372&postID=110309410688468840)

Anehnya lagi, banyak orang yang rela membuang-buang hartanya demi PNS ! Banyak dari mereka rela mengeluarkan uang hingga seratus juta rupiah ! ( ini nggak masuk di logika saya)

Di tengah kritik inefisiensi birokrasi, pemerintah malah menambah jumlah PNS sebanyak 200.000 orang. Busyet dah. Total jumlah PNS di Indonesia sekitar 4 juta orang, artinya 1 dari 50 orang penduduk republik ini adalah PNS.

Seorang teman yang jadi PNS di suatu kelurahan di Kepri pernah menyatakan bahwa inefisiensi sistem pemerintahan itu terlalu tinggi, jika sistem dibenahi (tanpa dukungan IT) kelurahan tersebut cukup dilayani 3-4 orang pegawai saja, sedangkan saat itu jumlah PNSnya 12 orang.

Sebetulnya kritik inefisiensi terhadap PNS itu tidak bisa dibuat sama rata, karena ada beberapa sektor yang sebetulnya masih sangat butuh tenaga, misalnya guru, dokter, dll. Inefisiensi lebih kepada PNS yang menjalankan roda birokrasi, seperti yang ada di kelurahan, kecamatan, dinas-dinas, dll.

Gue heran akan motivasi yang begitu tinggi untuk menjadi PNS di tengah kondisi saat ini, di mana kompetensi kurang dihargai, korupsi yang begitu parah, nepotisme yang sudah menjadi budaya dan not to mention the low salary. Kalau dipikir dengan hukum ekonomi kayanya gak make sense sama sekali. Karena pengorbanan yang harus dikeluarkan besar sekali, untuk pekerjaan yang… Padahal di swasta banyak sekali pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa perlu pengorbanan sebesar itu.ÂÂ

Imam Hasan Al Banna pernah berkata, “Sesempit-sempitnya rezeki adalah PNS”

Kita juga tahu bahwa gaji PNS adalah kecil, tapi kata seorang peminat PNS beralasan “Kita kan bisa hidup sederhana, kita juga bisa cari tambahan lain”

Hmmm…bukan berarti saya anti dengan Pegawai pemerintah alias PNS, tapi…saya lebih tertarik menjadi ‘bosnya PNS’ :D

Pilih mana: Berpenghasilan tetap atau tetap berpenghasilan ?

About Me

Foto Saya
RAFI COMPUTER
Lihat profil lengkapku

Daftar Blog Saya

Daftar Blog Saya

Anggota