Menghargai Anak Sebagai Individu
Anakmu bukanlah anakmu.
Mereka putra-putri kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka datang melalui engkau tapi bukan dari engkau.
Dan walaupun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan kepunyaanmu.
Kau dapat memberi mereka cinta kasihmu tapi tidak pikiranmu.
Sebab mereka memiliki pikirannya sendiri.
Kau bisa merumahkan tubuhnya tapi tidak jiwanya.
Sebab jiwa mereka bermukim di rumah masa depan,
Yang tiada dapat kau sambangi,
Bahkan tidak dalam impian-impianmu
Kau boleh berusaha seumpama mereka,
Tapi jangan berusaha membuat mereka seperti dirimu.
Sebab kehidupan tiada surut ke belakang, pun tiada tinggal bersama hari kemarin
Engkaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah membidik tanda sasaran di atas jalan
Puisi tersebut menyiratkan bahwa setiap anak terlahir sebagai individu yang unik dan bebas mengekspresikan dirinya. Walaupun orang tua tidak bisa merumahkan jiwa mereka, orang tua dapat menjalankan peran dan tugasnya sebagai pembimbing anak agar keunikan dan potensi anak dapat distimulasi dengan tepat.
Setiap anak adalah amanah dari Yang Mahakuasa. Peran dan tugas orang tua sebagai pembawa amanah, tentunya membutuhkan pengetahuan yang mendalam tentang cara menjaga amanah dengan baik dan memberikan bimbingan yang tepat. Beratnya beban dan tanggung jawab sebagai orang tua terkadang secara tidak disadari membuat orang tua lupa bahwa anak-anaknya adalah individu yang unik. Individu yang perlu mendapatkan pembimbingan dan dihargai sebagai pribadi, bukan dibatasi kesempatannya untuk mengembangkan diri ataupun dipaksa menjadi orang lain.
Harapan orang tua tentang keberhasilan anak di masa depan adalah harapan yang sangat manusiawi. Setiap orang tua tentunya berharap anaknya meraih keberhasilan dalam kehidupan mereka di masa depan. Namun, orang tua sering lupa bahwa keberhasilan anak di masa depan, sejatinya adalah keberhasilan yang datang dari kebahagiaan anak. Artinya, orang tua tidak dapat memaksakan kehendak atau cita-cita pribadi agar diwujudkan oleh anak.
Paksaan = beban
Sering kita dengar keluhan anak bahwa ia memilih suatu jurusan tertentu di pendidikannya atau mengikuti kursus dan les tertentu karena disuruh orang tua, padahal ia tidak sungguh-sungguh menyukai jurusan, kursus, ataupun les tersebut. Terdapat banyak kasus di mana orang tua membebankan cita-cita orang tua yang tidak tercapai kepada anaknya dan berharap anak mampu meraih cita-cita orang tua tersebut.
Keterpaksaan yang dijalani anak karena tuntutan orang tua, tentunya tidak membawa kebahagiaan bagi anak. Ia akan mengalami banyak kesulitan melakukan hal-hal yang dituntutkan padanya karena ia tidak betul-betul menikmati situasi tersebut. Ketika ini terjadi, tentunya anak tidak akan dapat sungguh-sungguh mencapai prestasi yang diharapkan orang tua.
Di satu sisi, ini akan menjadi beban bagi anak karena ia merasa tidak menyukai kegiatan itu dan melakukannya dengan keterpaksaan. Beban ini tentunya dapat berdampak pada berbagai sisi lain dalam kehidupan mereka. Orang tua mungkin akan mengeluhkan bahwa anak menjadi mudah marah atau memberontak terhadap tuntutan orang tua. Di sisi lain, anak mungkin tidak dapat mencapai prestasi optimal dan berpeluang menumbuhkan perasaan bersalah pada diri anak karena ia tidak mampu memenuhi keinginan orang tua.
Bagi orang tua, ketidakmampuan anak bisa dimaknakan sebagai kurangnya usaha dari anak untuk mencapai prestasi maksimal. Mungkin orang tua menjadi lupa bahwa anak tidak benar-benar menyukai kegiatan tersebut. Orang tua bisa jadi semakin menuntut anak untuk berprestasi lebih maksimal. Tindakan ini berpeluang menimbulkan konflik pada aspek-aspek lain dalam kehidupan anak.
Penghargaan
Tuntutan berlebihan dari orang tua dan keterpaksaan yang dilakukan oleh anak ini, tentunya akan menyulitkan bagi orang tua maupun anak. Oleh karena itu, perlu kiranya orang tua melakukan perenungan kembali mengenai apa tujuan pendidikan yang akan dilakukan oleh orang tua pada anak-anak mereka. Dalam hal ini, penghargaan terhadap anak adalah unsur utama yang harus dipertimbangkan sebagai jembatan untuk mengantar mereka mengikuti pendidikan yang mereka sukai.
Seyogianya, orang tua menjalankan perannya sebagai pembimbing bagi anak. Dalam arti, penghargaan pada anak juga diarahkan pada penghargaan terhadap pilihan anak atas suatu kegiatan tertentu dengan tetap memberikan pengarahan yang dibutuhkan.
Dalam perannya sebagai pembimbing, orang tua hendaknya menjadi sumber informasi tentang berbagai jurusan, kegiatan kursus dan les yang dapat menstimulasi perkembangan anak dengan lebih baik. Orang tua juga hendaknya menjadi sumber informasi mengenai profesi, cita-cita yang dapat dipilih anak, peran dan tanggung jawab profesi tersebut serta prospeknya di masa depan. Tentunya ini dilakukan tanpa unsur memaksa anak untuk memilih salah satu yang orang tua inginkan. Pilihan ada di tangan anak, tetapi orang tua tetap memberikan bimbingan dan diskusi tentang berbagai alternatif tersebut.
Menghargai anak sebagai individu, juga dapat dilakukan oleh orang tua dengan senantiasa mendengarkan keluhan dan pendapat anak. Keluhan yang disampaikan anak kepada orang tua adalah cermin bahwa orang tua dipandang sebagai pribadi yang kompeten oleh anak sehingga patut dimintai pendapat. Selain itu, orang tua juga dipandang sebagai orang terdekat sehingga anak merasa nyaman berkeluh kesah pada orang tuanya karena yakin bahwa orang tua akan membantu.
Di sisi lain, orang tua juga patut menghargai pendapat anak. Sesederhana apa pun pendapat anak jika orang tua mendengarkan dan memberikan respons positif, tentunya akan dimaknai sebagai penghargaan oleh anak. Penghargaan ini akan menumbuhkan rasa bangga pada diri anak bahwa ia dianggap kompeten oleh orang tua dan anak akan merasakan bahwa ia dihargai. Relasi mutualisme ini akan memupuk saling pengertian antara orang tua dan anak sehingga potensi konflik di usia remaja dapat sedikit diminimalisasi.
Menghargai anak sebagai individu adalah juga menghargai minat dan potensi yang dimilikinya. Tidak sepatutnya orang tua melakukan pembandingan kemampuan anak yang satu dengan anak lainnya karena sesungguhnya tiap anak lahir dengan potensi dan kemampuan berbeda. Stimulasilah anak sesuai dengan arah minat dan potensinya. Sangatlah bijak jika orang tua tidak menuntut anak melakukan sesuatu yang di luar batas kemampuan anak. Tidak semua anak harus menjadi juara I, tapi semua anak harus menjadi diri sendiri yang memiliki potensi yang distimulasi dengan baik.
Menghargai anak sebagai individu adalah juga menghargai kepribadiannya yang unik. Ada anak yang mudah tersentuh emosinya, ada anak yang memiliki empati yang tinggi, ada anak yang rasional, ada anak yang sedikit keras kepala, dan sebagainya. Pribadi-pribadi unik ini perlu mendapatkan pembimbingan yang tepat dan bersifat individual. Bimbingan untuk anak yang satu belum tentu cocok untuk anak yang lain. Oleh karena itu, pemahaman karakter tiap anak adalah penting untuk dapat membantu tumbuh kembang anak menjadi jauh lebih baik. Pahamilah kelebihan dan kekurangan tiap anak sehingga pendekatan yang akan dilakukan orang tua pada tiap anak menjadi bersifat eksklusif dan personal.
Kau boleh berusaha seumpama mereka,
Tapi jangan berusaha membuat mereka seperti dirimu.
Sebab kehidupan tiada surut ke belakang, pun tiada tinggal bersama hari kemarin


1 komentar:
Mudah2an saya bisa jadi orang tua yang bijak, mudah2an anak sy bisa lebih baik dari orang tuanya sekarang. Mudah2an sy bisa berargument dengan anak sy tanpa harus bilang anak kurang ajar kalau saya kalah berargument.