Selasa, 26 Januari 2010

Taushiyah Aa Gym: Bersahabat dengan Anak

Setiap anak pasti pasti akan berbuat salah. Tugas orangtua bukan untuk menyalahkan, tapi menyemangati agar mereka bisa bangkit dan memperbaiki kesalahannya.

Suatu hari Aa dan istri sempat dibuat cemas. Sebabnya, salah seorang anak laki-laki kami yang sudah beranjak remaja tidak pulang tepat waktu seperti biasanya. Padahal saat itu hari sudah malam. Tidak ada seorang pun orang rumah yang tahu ke mana ia pergi, termasuk para santri. Biasanya anak itu selalu meminta izin atau memberitahukan terlebih dulu bila hendak bepergian.

Alhamdulillah, beberapa saat setelah itu ia datang. Selidik punya selidik ternyata anak saya itu pergi bersama teman-temannya ke pasar Inpres untuk membeli makanan. Ingin rasanya saya marah. Tapi saya sadar bahwa marah tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan membuat masalah makin rumit.

Akhirnya saya mengajak dia berdialog. Ternyata dengan dialog yang dikemas secara santun dan tidak menghakimi, permasalahan bisa diselesaikan dengan baik. Anak mau terbuka, mau mengakui kesalahan, bahkan dengan kesadaran sendiri ia mau mempertanggungjawabkan kesalahannya.

Saudaraku, kita harus selalu berlaku bijak dalam menyikapi perilaku anak-anak kita. Sebabnya, setiap fase pertumbuhan anak membutuhkan cara mendidik dan cara mengarahkan yang berbeda. Fase bayi tidak bisa didekati dengan pola pendidikan untuk usia tiga tahun. Begitupula pola pendidikan untuk anak usai tiga tahun tidak bisa dipakai untuk anak usia lima atau enam tahun. Demikian pula ketika mengadapi anak yang sudah remaja alias ABG.

Sebenarnya ada peran-peran tertentu yang harus dimainkan orangtua dalam mendidik anaknya. Menghadapi anak yang telah remaja misalnya, orangtua harus bisa memposisikan dirinya sebagai teman. Jalin komunikasi dengan mereka layaknya kepada teman, karena anak seusia itu membutuhkan teman untuk berkomunikasi dan tempat curhat.

Bagaimana memulainya? Pertama, terapkanlah prinsip Aku Bukan Ancaman Bagimu saat berhubungan dengan anak. Hal ini sangat penting, karena seseorang berubah karena paham. Paham itu datang karena adanya komunikasi. Dan komunikasi itu akan baik kalau ada rasa aman. Bila anak sudah merasa aman atau nyaman berkomunikasi dengan kita, maka ia akan lebih terbuka. Ketika melakukan kesalahan, biasanya ia akan dengan sukarela mengaku pada orangtuanya. Sebaliknya, kalau mereka sudah takut dan merasa terancam, maka komunikasi pun tidak akan berlangsung baik. Karena itu, bertanyalah selalu, apakah anak-anak merasa aman berkomunikasi dengan kita atau tidak?

Kedua, ciptakan komunikasi suportif, menyemangati, dan tidak melemahkan. Setiap anak pasti akan berbuat salah. Dalam kondisi seperti ini posisi orangtua, idealnya, bukan sebagai pihak yang menyalahkan, tapi sebagai pihak yang menyemangati si anak agar bisa bangkit dan memperbaiki kesalahannya. Ingat kisah seorang anak yang mengadu pada bapaknya, "Maaf Pak, nilai saya empat". Lalu dijawab oleh Bapaknya, "Hah, empat? Hebat dong, Bapak dulu dapat 3,5. Bapak malu, tapi setelah itu jadi rajin belajar, berusaha belajar mati-matian. Eh setelah itu jadi bintang kelas. Ayo bangkit, belajar sunggung-sungguh!".

Ketiga, terbuka dan suka dikoreksi. Jangan malu mengakui kesalahan atau kekurangan diri. Jangan ragu untuk belajar pada anak, jika memang mereka memiliki ilmu yang belum kita miliki. "Ayo Nak, kasih masukan pada Bapak!". Maka, di sinilah pentingnya kita mengembangkan dialog yang jujur.

Tidak sedikit orangtua yang memaksakan anaknya untuk selalu menerima pendapat atau jalan pikiran sendiri. Bila berkomunikasi, tanpa sadar mereka menerapkan komunikasi satu arah; "saya bicara, kamu mendengar". Yang lebih tepat justru "kamu bicara, saya mendengar".

Sikap otoriter berpotensi menghancurkan harga diri anak. Bila dibiarkan berlarut-larut si anak akan memiliki pandangan negatif terhadap diri dan orangtuanya. Lebih fatal lagi, mereka bisa menunjukkan sikap melawan, baik secara terselubung maupun terang-terangan. Anak pun menjadi takut untuk mengambil keputusan, kurang percaya diri, mudah sakit, dan menjadi emosional akibat tekanan perasaan.

Dengan demikian, jika terjadi perbedaan pendapat, pendekatan demokratis dan terbuka jauh lebih bijaksana. Salah satu caranya adalah dengan membangun rasa saling pengertian, di mana masing-masing pihak berusaha memahami sudut pandang pihak lain. Di sini, lagi-lagi orangtua yang harus mengawali. Wallahu a'lam bish-shawab

Senin, 11 Januari 2010

KESEHARIAN RASULULLAH ADALAH POLA HIDUP TERBAIK KITA

Ternyata, pola makan (termasuk dalam pola hidup sehat) Rasulullah merupakan salah satu aspek kehidupan yang patut kita tiru dari beliau. Beliau terbukti memilIki tubuh yang sehat, kuat, dan bugar.

  • Beliau bangun sebelum subuh untuk Qiymul lail, sehingga asupan awal ke tubuh beliau adalah udara sepertiga malam terakhir. Para pakar kesehatan menyatakan bahwa udara pada waktu ini sangat kaya akan oksigen, sehingga sangat bermanfaat untuk optimalisasi metabolisme tubuh, yang berpengaruh terhadap vitalitas seseorang dalam aktivitasnya sehari penuh. Itulah sebabnya orang yang yang memulai aktivitas dengan bangun subuh, biasanya menjalani hari dengan penuh semangat dan optimis.
  • Di pagi hari, Beliau menggunakan siwak untuk kesehatan mulut dan giginya. Siwak mengandung fluor alami yang sangat bermanfaat untuk kesehatan gigi dan gusi. Saat ini, ekstrak siwak dapat kita temui dalam pasta gigi, sehingga mudah untuk kita gunakan
  • Rasulullah membuka menu sarapannya dengan segelas air dingin dicampur sesendok madu asli yang luar biasa khasiatnya. Dalam Al-Quran, madu merupakan syifaa(obat) isim nakhiroh(menyeluruh) atas berbagai penyakit. Madu juga mengandung mikronutrisi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh.
  • Masuk waktu dhuha(pagi menjelang siang), Rasulullah senantiasa mengonsumsi tujuh butir kurma ajwa’ (matang). Rasulullah pernah bersabda, “ Barang siapa makan tujuh butir kurma, maka akan terlindung dari racun”.
  • Menjelang sore hari, menu Rasulullah adalah cuka dan minyak zaitun yang dikonsumsi dengan makanan pokok seperti roti. Manfaatnya, diantaranya : mencegah lemah tulang, mencegah kepikunan, melancarkan sembelit, menghancurkan kolesterol, melancarkan perncernaan, dll.
  • Setelah makan, Beliau tidak langsung tidur. Beliau beraktivitas dahulu sehingga makanan yang dikonsumsi masuk ke lambung dengan cepat dan mudah dicerna.
  • Beberapa jenis makanan yang disukai Rasulullah tetapi Beliau tidak rutin mengkonsumsinya antara lain : tsarid (campuran roti daging dengan kuah air masak), buah yaqthin (labu air), buah anggur, dan hilbah (susu).
  • Rasulullah sering menyempatkan diri berolahraga, terkadang sambil bermain dengan anak dan cucunya. Olahraga diakui oleh para pakar kesehatan sangat bermanfaat bagi tubuh
  • Rasulullah tidak menganjurkan umatnya untuk bergadang. Beliau tidak menyukai berbincang dan makan sesudah waktu isya. Beliau tidur lebih awal supaya bisa bangun lebih pagi. Karena istirahat yang cukup, seperti tidur yang merupakan hak tubuh, dibutuhkan oleh tubuh.
  • Inti pola konsumsi Rasulullah adalah menghindari isrof (berlebihan) dalam makan dan minum. Beliau tidak pernah melakukan idkhol at thoam ‘ala thoam (makan lagi sesudah kenyang). Beliau menekankan bahwa assyab’u (kenyang) bukanlah al imtila’ (memenuhi perut dengan makanan. Kenyang yang sebenarnya adalah tercukupinya tubuh oleh zat-zat yang dibutuhkannya sesuai dengan proporsi dan ukurannya

Alhamdulillah, itu tadi sedikit informasi mengenai pola hidup sehat Rasulullah yang berkaitan dengan pola makan Beliau. Di tengah pudarnya semangat mengikuti sunnah Beliau, sedikit pengetahuan ini mudah-mudahan bisa menjadi spirit kita untuk memulai menghidupkannya kembali. Apalagi pola hidup tersebut terbukti bisa dipertanggungjawabkan secara medis.
Mari kita mulai merubah kebiasaan buruk pola hidup kita sama2

Selasa, 05 Januari 2010

Menasihati orangtua yang Otoriter

Soal
Saya mau nanya, bagaimana cara menegur orang tua yang otoriter, maunya menang sendiri dan sifatnya sulit untuk diubah. Sementara sebagai anak harus selalu taat pada orang tua bagaimana pun keadaannya?

Jawab
Memang benar seorang anak pada prinsipnya harus mentaati kedua orang tuanya. Tetapi persoalan taat ini terbatas pada persoalan yang bersifat mubah, tidak ada larangan dari Allah dan RasulNya. Sementara jika ada larangan dari Allah atau RasulNya, maka tidak diizinkan mentaatinya sebagaimana firma Allah, ”Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik” (QS Luqman:15)
Mempergauli dengan baik di dalam ayat di atas maksudnya adalah bersikap hormat kepada mereka dalam pergaulan. Di antara wujud hormat seorang anak kepada orang tua adalah memegang amanah orang tua, mendahulukan orang tua ketika makan, mentaati perintah dan larangan orang tua, mengutamakan pendapat orang tua atas pendapatnya sendiri, bersikap sopan saat berbicara, dan lain-lain.
Penghormatan kepada orang tua di sini tidak menutup kemungkinan memberikan pertimbangan-pertimbangan terhadap kebijakan orang tua, jika ia melihat ada sesuatu yang lebih baik. Tentu kita boleh saja memberikan pertimbangan, bukan untuk menggurui. Yang perlu diingat, dalam menyampaikan tentunya menjaga adab yang baik, penuh rasa hormat dan tawadlu’. Tetapi jika kemudian orang tua memilih sesuai dengan pilihannya sendiri, kewajiban anak adalah mentaatinya.
Memberi pertimbangan atau menasihati orang tua tidak sama seperti menasihati orang muda. Apalagi menegur, misalnya menegur untuk shalat. Cara yang digunakan mestilah sesuai supaya tidak menyinggung perasaan mereka.
Di sini ingin kami tambahkan, untuk memberi pertimbangan kepada orang tua kadang-kadang memerlukan bantuan dari orang yang dihormati oleh orang tua, baik karena kedudukan, atau usianya lebih tua. Untuk itu ada baiknya Anda memohon bantuan kepada mereka yang dihormati orang tua Anda untuk ikut serta memberikan masukan saran atau nasihat kepada orang tua Anda. Tetapi tentunya dengan menjaga agar orang ketiga ini tidak terlalu masuk ke dalam urusan orang tua, sekedar membuka wacana bagi orang tua saja.
Atau jika mungkin diberikan bahan-bahan bacaan, persilakan orang tua untuk membaca bahan-bahan yang bermanfaat.
Yang terakhir, selalu do’akanlah orang tua Anda, semoga Allah memberikan hidayah kepadanya